Karyasastra Smara Dhana

 


Kakawin Smaradahana



Kakawin Smaradahan merupakan karya sastra Jawa kuno yang berbahasa Kawi dari Kerajaan Kediri.
Karya sastra ini ditulis oleh pengarang yang bernama Empu Dharmaja pada masa pemerintahan Raja Kameswara pada awal abad ke-12 di Jawa Timur, sebagai  pujian terhadap raja dan untuk menyampaikan ajaran agama Hindu.

Kata Smaradahana berasal dari dua kata yaitu smara yang berarti  hasrat atau asmara dan dahana yang berarti pembakaran. Secara etimologis, Smaradahana bermakna pembakaran dewa asmara atau sering diartikan sebagai api cinta

Karya ini terinspirasi dari kisah Dewa Kama yang dibakar oleh api Dewa Siwa, sebuah cerita yang juga dikenal dalam mitologi Hindu.

Isi cerita dari karya sastra Kakawin Smaradahana :

Kisah Kakawin Smaradahana dibuka dengan kegentingan di kahyangan akibat ancaman raksasa Nilarudraka. Para dewa berada dalam posisi terjepit karena satu-satunya sosok yang mampu menghasilkan keturunan untuk mengalahkan raksasa tersebut, yakni Dewa Siwa, sedang tenggelam dalam meditasi yang sangat dalam dan tak tergoyahkan. Dalam keheningan tapa bratanya, Siwa menutup diri dari segala urusan duniawi, sehingga para dewa harus memutar otak agar sang dewa terbangun dan bersedia bersatu kembali dengan Dewi Parwati.

Akhirnya, tugas berat ini dibebankan kepada Sang Hyang Kamajaya, sang dewa cinta. Dengan penuh keberanian meski sadar akan bahaya yang mengancam nyawanya, Kamajaya mendekati tempat meditasi Siwa dan melepaskan panah sakti bernama Pancawisaya atau panah bunga. Panah tersebut tepat mengenai jantung Siwa, seketika membangkitkan gejolak rindu dan asmara di hati sang dewa agung. Namun, terbangunnya Siwa secara mendadak memicu kemarahan yang luar biasa. Dari mata ketiga di dahinya, keluarlah api mahapralaya yang menghanguskan tubuh Kamajaya hingga menjadi abu dalam sekejap.

Mendengar kabar duka tersebut, Dewi Ratih, istri setia Kamajaya, tidak sanggup hidup sendirian. Ia mendatangi sisa abu suaminya dan melakukan satya—menceburkan diri ke dalam api demi menyatukan jiwanya kembali dengan Sang Hyang Kamajaya. Kesetiaan yang luar biasa ini menyentuh hati para dewa, termasuk Siwa yang kemarahannya mulai mereda. Meski tubuh fisik mereka telah musnah, Siwa memberikan anugerah bahwa roh Kamajaya akan menitis masuk ke dalam jiwa setiap laki-laki di dunia, sementara roh Dewi Ratih akan bersemayam di dalam jiwa setiap perempuan.


Makna yang terkandung dalam cerita di atas:

1.Seimbangkan hati dan pikiran: Seperti Siwa dan Kamajaya, kita perlu menyeimbangkan antara aspirasi spiritual atau prinsip hidup dengan perasaan dan hubungan sosial. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, tapi jangan juga hanyut dalam keinginan sesaat.

2.Pengorbanan Diri: Menggambarkan keberanian mengambil risiko dan berkorban demi keselamatan serta kepentingan orang banyak.

3.Cinta itu Rohani: Cinta sejati tidak terbatas pada fisik, tetapi bersifat spiritual yang bersemayam dalam hati setiap manusia.



Comments

Popular posts from this blog

rafflesia arnoldi